Home » » Masalah AIDS adalah Prostitusi

Masalah AIDS adalah Prostitusi

Written By el_mlipaki on Selasa, 26 Juni 2012 | 19.13

Tahukah anda bahwa situasi epidemi HIV di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan cukup signifikan, dan peristiwa itu tentunya sangat memprihatinkan. Menurut laporan terbaru yang dilakukan oleh Badan Dunia untuk penanggulangan HIV/AIDS atau UNAIDS, negara Indonesia sekarang ini menempati urutan nomor satu di antara negara-negara Asia lainnya terkait
dengan tingkat kecepatan laju epidemi HIV/AIDS. Menurut Komisi Penanggulangan AIDS Nasional / KPAN, HIV ditularkan melalui seks penetratif (anal atau vaginal) dan oral seks; transfusi darah; pemakaian jarum suntik terkontaminasi secara bergantian dalam lingkungan perawatan kesehatan, dan melalui suntikan narkoba; dan melalui ibu ke anak, selama masa kehamilan, persalinan, dan menyusui. Jadi berdasarkan hasil survei perubahan perilaku yang dirilis Kemenkes, sebanyak 55 persen dari keseluruhan infeksi baru HIV dan kasus AIDS disebabkan oleh hubungan seks heteroseksual, yaitu para pria hidung belang yang suka jajan di tempat-tempat prostitusi maka Bu Menkes merasa wajar kalau kampanye Kondomisasi itu merupakan langkah yang strategis untuk menanggulangi penyebaran penyakit AIDS yang semakin deras melaju.
Cara Penularan HIV / AIDS Kemenkes sendiri telah mengemukakan bahwa HIV dapat ditemukan dalam cairan tubuh seperti darah, cairan semen, cairan vagina dan air susu ibu. Berikut adalah cara-cara penularan HIV AIDS yang lazim terjadi di masyarakat.
A. Remaja
• Jarum Tato
Risiko penularan HIV terjadi bila alat yang digunakan terkontaminasi virus HIV dan tidak disterilkan terlebih dahulu atau digunakan secara bergantian dengan orang lain. Alat yang digunakan secara disuntikkan pada kulit hendaknya dipakai hanya satu kali, kemudian dibuang atau dicuci dan disterilkan secara seksama.
• Penularan melalui pemakaian jarum suntik atau semprit secara bergantian:
Menggunakan kembali atau memakai jarum atau semprit secara bergantian merupakan cara penularan HIV yang sangat efisien. Risiko penularan dapat diturunkan secara berarti di kalangan pengguna narkoba suntikan dengan penggunaan jarum dan semprit baru yang sekali pakai, atau dengan melakukan sterilisasi jarum yang tepat sebelum digunakan kembali.
  B. Umum
• Alat Cukur
Segala jenis pelukaan dengan menggunakan benda yang tidak disterilkan, seperti silet atau pisau, dapat menularkan HIV. Memakai pencukur jenggot secara bergantian dengan orang lain hendaknya dihindarkan, kecuali benda-benda tersebut disterilkan sepenuhnya sebelum digunakan.
• Transfusi Darah
Kemungkinan risiko terjangkit HIV melalui transfusi darah dan produk- produk darah yang terkontaminasi ternyata lebih tinggi (lebih dari 90%). Kendatipun demikian, penerapan standar keamanan darah menjamin penyediaan darah dan produk- produk darah yang aman, memadai dan berkualitas baik bagi semua pasien yang memerlukan transfusi. Keamanan darah meliputi skrining atas semua darah yang didonorkan guna mengecek HIV dan patogen lain yang dibawa darah, serta pemilihan donor yang cocok.
• Ibu Hamil dan Menyusui
Pada umumnya, terdapat 15-30% risiko penularan dari ibu yang positif mengidap HIV ke anak sebelum dan sesudah kelahiran. Sejumlah faktor dapat mempengaruhi risiko infeksi, khususnya jumlah virus (viral load) dari ibu pada saat kelahiran (semakin tinggi jumlah virus, semakin tinggi pula risikonya.). Penularan dari ibu ke anak setelah kelahiran dapat juga terjadi melalui pemberian air susu ibu.
C. Prostitusi
HIV dapat ditularkan melalui seks penetratif yang tidak terlindungi. Sangat sulit untuk menentukan kemungkinan terjadinya infeksi melalui hubungan seks, kendatipun demikian diketahui bahwa risiko infeksi melalui seks vaginal umumnya tinggi. Penularan melalui seks anal dilaporkan memiliki risiko 10 kali lebih tinggi dari seks vaginal. Seseorang dengan infeksi menular seksual (IMS) yang tidak diobati, khususnya yang berkaitan dengan tukak/luka dan duh (cairan yang keluar dari tubuh) memiliki rata-rata 6-10 kali lebih tinggi kemungkinan untuk menularkan atau terjangkit HIV selama hubungan seksual. Dalam hal penularan HIV, seks oral dipandang sebagai kegiatan yang rendah risiko. Risiko dapat meningkat bila terdapat luka atau tukak di sekitar mulut dan jika ejakulasi terjadi di dalam mulut. Dan kondisi itu sangat banyak sekali terdapat pada lokalisasi-lokalisasi yang menjajakan seks secara komersial. Tidak jarang para pengunjung yang datang adalah mereka yang masih berusia produktif / remaja. Semakin banyak orang yang datang ke tempat seperti ini maka semakin banyak pula mereka membawa wabah ini ke mana-mana.

Sangat jelas bahwa pangkal dari penyebaran HIV / AIDS itu bukan pada remaja yang menggunakan jarum atau alat cukur kalau tidak ada pertama kali yang membawa virus. Begitu pula ibu hamil dan menyusui, sangat mustahil kalau dia tidak tertular lebih dahulu. Memang kasus HIV/AIDS pertama di Indonesia diidentifikasi di Bali pada seorang laki-laki asing yang kemudian meninggal pada April 1987. Dan di sana pula tempat yang bertumbuh suburnya praktek-praktek prostitusi bukan hanya dari dalam negeri melainkan dari mancanegera. Telisik punya telisik bisa kita fahami bahwa akar permasalahan berkembangnya kasus HIV / AIDS ini berasal dari tempat maksiat prostitusi, sedangkan para remaja dan ibu-ibu rumah tangga adalah efek yang terkena dampak dari penyebarannya. Jadi sama saja ketika remaja yang diberikan kondom bukanlah cara untuk membasmi HIV / AIDS ini melainkan akan semakin meledaknya perkembangan virus HIV / AIDS.
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

 
Support : Alfin | Alfin El-Mlipaki | Sciena Madani
Copyright © 2013. el_mlipaki - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Sciena Madani
Proudly powered by Wonder Ummi