Home » » INDONESIA KEBANJIRAN BUAH IMPOR

INDONESIA KEBANJIRAN BUAH IMPOR

Written By el_mlipaki on Kamis, 09 Agustus 2012 | 10.38


Bumi nusantara yang subur makmur, seakan-akan menjadi surga bagi manusia yang hidup di dunia. Kesuburan tanah di Negara ini bahkan menjadi inspirasi grup musik kondang tempo dulu Koes Ploes dengan penganalogian batu dan kayu yang diletakkan di atas tanah saja bisa jadi tanaman. Ini menandakan betapa subur
kondisi tanah di Indonesia. Oleh karenanya dalam takaran ideal, Indonesia sangat mungkin menjadi sentra produksi bumi seperti padi, rempah-rempah, bahkan buah sekalipun. Namun mengapa untuk buah saja, petani Indonesia kalah di kandang sendiri dan nampaknya masyarakat justeru menggemari buah impor dari pada buah lokal. Apabila kita pergi ke pasar tradisional apalagi di mall, kita akan sangat mudah mendapati stand buah impor, mereka ada dimana-mana dari kota hingga desa semua hampir mengkonsumsi buah impor. Memang bukan hanya dari kemasan, namun fisik buah impor memang lebih menarik untuk dikonsumsi. Buah impor kerap dipilih oleh konsumen dengan alasan, tampilannya menarik, pasokannya terjamin, dan ada standarisasi mutu. Durian montong asal Thailand, jeruk asal Cina, apel washington, pear, anggur dan kawan-kawannya sudah menjadi langganan konsumen Indonesia. Di luar lingkup rumah tangga, buah-buahan juga menjadi bahan baku industry makanan dan minuman. Untuk minuman ringan sari buah yang diproduksi perusahaan besar, hampir semua bahan bakunya impor. Disebutkan dalam harian Kompas 6/10/11, buah-buahan impor yang menjadi bahan baku industry ini umumnya dihasilkan oleh perkebunan besar, sentuhan teknologi diaplikasikan dari penanaman hingga pascapanen sehingga kontinuitas pasokan dan standarisasi rasa serta bentuk buah bisa didapat. Dengan membanjirnya buah-buah impor di dalam negeri saat ini turut menjadi kecemasan para pengusaha buah-buahan di dalam negeri. Di satu sisi Indonesia ingin menggenjot ekspor buah ke luar negeri namun di sisi lain pasar dalam negeri dibanjiri buah impor. Bahkan dalam kalkulasinya ditahun (21/2/2011) lalu saja yang dirilis detikFinance, angka impor buah sangat fantastis "Kalau kita lihat di pasar, dengan kita sudah impor buah dari luarnegeri mencapai 70-80%.” kata Ketua Umum Asosiasi Sayur dan Buah Indonesia Hasan Johnny Widjaja. Hal ini menjadi sebuah momok bagi para petani buah local, karena setiap hari komoditas impor ini semakin meningkat seperti yang dikemukakan oleh anggota Lembaga Pengkajian Peneliti dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Ina Primiana mengatakan, saat ini pasar domestik masih dibanjiri oleh buah impor. "Bagaimana pemerintah merespons terhadap impor membanjiri pasar. Sebelum ACFTA impor buah sudah ada. November ke Desember 2009 naik 100 persen. Dari tahun ke tahun sangat tinggi impornya. Buah impor sangat memasyarakat. Pemberian izin impor tidak memperhatikan potensi domestik," kata Ina, di Jakarta, Selasa (5/6/2012). Mengapa impor buah di Indonesia seakan-akan tidak bisa dibendung? Sebelumnya pemerintah untuk ketiga kalinya menunda pemberlakuan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 3/2012 tentang rekomendasi impor produk holtikultura dan Permendag nomor 30/2012 tentang impor hortikultura dengan alasan belum siapnya infrastruktur. Padahal seharusnya aturan itu diterapkan pada 15 Juni 2012 lalu. Namun, dengan dalih belum ada kesiapan dari infrastruktur, pelaksanaan aturan itu ditunda hingga 28 September 2012. Padahal, Ketua Asosiasi Eksportir Importir Buah dan Sayur Segar Indonesia (Assibisindo) Kafi Kurnia mengaku infrasturtur tidak ada masalah dan anggotanya sudah 10.000 persen siap jika aturan tersebut diberlakukan. Jelas, kondisi ini akan semakin membludaknya berbagai buah impor yang akan membanjiri Indonesia. Berbagai pelabuhan akan lebih banyak menerima kiriman buah dari berbagai manca Negara.
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Baris Iklan

BARIS IKLAN

BARIS IKLAN
Agen Tafsir Al Qur'an Al Ibriz Bahasa Jawa Tulisan Latin Semarang

Mengenai Saya

Foto saya
Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
 
Support : Alfin | Alfin El-Mlipaki | Sciena Madani
Copyright © 2013. el_mlipaki - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Sciena Madani
Proudly powered by Wonder Ummi