Home » » SEMARANG AMBLAS

SEMARANG AMBLAS

Written By el_mlipaki on Kamis, 02 Januari 2014 | 14.40


Banjir Sepanjang Tahun
Saat musim kemarau saja tidak pernah kering apalagi saat musim hujan tiba, di mana Semarang (kota bawah) merupakan langganan banjir. Tidak bisa dibayangkan bagaimana kondisi penghuninya.

            Ribuan rumah yang tersebar di kecamatan Semarang Utara, Timur, Genuk, Barat dan Tugu saat ini menjadi langganan rob (air pasang naik), dimana kondisi seperti ini sangat mengganggu aktivitas masyarakat lantaran bau busuk dan menyebabkan gatal-gatal dan bau busuk.
            Dari beberapa pantauan menyebutkan sejumlah kampung seperti di Bandarharjo, Petek, Tambra, Layur, Dadapsari, Cilosari, Sporland, dan masih banyak lagi sepanjang tahun air rob selalu naik dengan ketinggian air mencapai 20-30 cm.
“Rob akan terus naik hingga malam dan dini hari nanti. Biasanya rob datang sekitar jam satu siang. Air terus naik sampai besoknya, baru jam 06.00 mulai surut," ungkap Sukarjan, warga Tikung Baru.
Ironisnya, meskipun surut kondisi perkampungan tersebut tidak lantas kering. Pasalnya beberapa jam kemudian rob datang lagi. Guna mensiasati kondisi seperti ini banyak warga (yang mampu tentunya) berusaha meninggikan jalan atau rumah-rumah mereka sendiri, meski hal itu tak banyak menolong.

Rumah dan Perkantoran Tenggelam
Ketika SELARAS ‘blusukan’ ke kampung-kampung banyak dijumpai rumah kosong yang tenggelam, hanya menyisakan atap dan tembok yang keutuhannya tinggal 10 persen saja atau hilang sama sekali. Kalau tidak, bagi penghuni yang tidak mampu meninggikan, dengan sangat terpaksa harus berkutat di dalam rumah yang tak pernah kering.
“Kami setiap hari terpaksa memakai sepatu boat ini mas, kalau tidak kaki kami akan gatal-gatal dan rangen.” ujar mbok Sayem, warga Cilosari dengan nada memelas.
Bukan hanya rumah perkampungan, tapi bangunan-bangunan bekas perkantoran pun banyak yang mangkrak dan semakin tenggelam. Misalnya Stasiun Semarang Gudang, kantor bekas Terminal Petikemas, Balai Yasa milik PT KAI, gudang-gudang di areal Pelabuhan Kalibaru dan masih banyak lagi yang terhampar di sepanjang Jl. Ronggowarsito, Usman Janatin, Kalibaru, Empu Tantular dan sebagian pesisir semarang. Yang lebih parah lagi, beberapa lembaga pendidikan yang terpaksa harus tutup lantaran terendam air sepanjang tahun, sementara tidak ada anggaran untuk meninggikan. 


Semarang Riwayatmu Dulu
Saat pertama kali Made Pandan (bupati pertama yang bergelar Ki Ageng Pandanaran I) membuka Semarang, daerah ini masih berupa rawa dan endapan lumpur. Seiring makin banyaknya penghuni, kota ini berkembang pesat menjadi pusat perdagangan.
Melihat pasar yang menjanjikan, pada tanggal 16 Juni 1864 pemerintah kolonial Belanda  menunjuk Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) untuk membangun stasiun Tambaksari (Semarang Gudang). Stasiun pertama di Indonesia yang terletak di tepi pelabuhan (sekarang di kelurahan Kemijen, ujung jalan Ronggowarsito) ini menghubungkan jalur sepanjang 25 km dari Semarang-Alasto-Tanggung. Gunanya untuk memudahkan transportasi hasil bumi dari pedalaman ke pelabuhan.  
Sejak itu laju pertumbuhan ekonomi semakin menggeliat dan Semarang tercatat sebagai kota pengekspor gula terbesar di dunia setelah Kuba. Pada tahun 1872 Belanda kembali membangun pelabuhan baru bernama Nieuwe Havenkanaal (Kali Baroe), mercusuar Willem 3 (satu-satunya yang ada di Jawa Tengah), kanal-kanal agar kapal bisa masuk ke tengah kota serta sarana penunjang lainnya. Diantaranya Balai Yasa (bengkel loko dan gerbong kereta), jembatan gantung Kalibaru (jembatan yang bisa dibuka tutup setiap ada kapal lewat), perkantoran (yang lebih dikenal dengan Kawasan Kota Lama), asrama pegawai, perkampungan pribumi, hotel (Hotel Jansen), hingga masjid Menara Kampung Melayu. Kawasan ini kemudian dijuluki “Outstadt” atau Litle Netherland. Wilayahnya meliputi Ooster wal Straat (Jl. Cendrawasih), Pasar Johar (selatan), Wester wal Staar (Jl. Mpu Tantular) hingga Stasiun Tambaksari.
Kondisinya yang strategis (dekat dengan pelabuhan), lengkap dengan jalur kereta api yang ditunjang dengan penataan kota serta saluran air yang sangat rapi dan bersih mampu menarik perhatian dunia saat itu. Banyak sekali pendatang yang hanya singgah sebagai pelancong, berdagang hingga menetap di kota ini. Dari sinilah kemudian lahir budaya asli “Semarangan” hasil asimilasi antara Jawa, Arab (Islam) dan China, salah satunya yakni Warak Ngendog dan Dugderan.
Namun sayang, memasuki awal tahun 1990-an, Litle Netherland perlahan-lahan mulai tenggelam oleh air rob. Kawasan yang pernah menjadi ikon sejarah lahirnya Semarang berubah menjadi lautan, sebagian lagi tampak kumuh, gersang dan tidak sehat lagi. Satu persatu gedung yang dulu pernah menjadi kebanggaan mangkrak tak terawat karena ditinggal penghuninya, bahkan separuh lebih bangunan bersejarah sudah rata dengan air. Yang paling mengharukan lagi, stasiun pertama di Indonesia yang menjadi tonggak awal perkeretaapian di negeri ini dan pernah menjadi pusat perdagangan internasional kini sudah berubah menjadi rawa. Hanya bangunan tua yang terendam air setinggi 1,5 meter yang bisa dijumpai saat ini. *i@m (sumber Ports Cities of The Worlds 1925 dan Official Guide for Shippers and Traveller 1928)
***
Sunoto (68), saksi sejarah dan pensiunan pegawai PJKA Stasiun Semarang Gudang.
            “Dulu stasiun ini sangat ramai sekali. Mulai dari bongkar muat, langsiran serta kereta api yang lewat saja. Tapi sejak tahun 2006 air rob mulai naik, relnya mulai terendam air dan akhirnya mati. Sejak itu stasiun ini lambat laun tenggelam seperti sekarang ini.”


Rounded Rectangle: P: Hakim
R: Laput 3
ROB DAN DAMPAK KESEHATAN

Fenomena rob yang seakan tak kunjung usai menghantui aktivitas sehari-hari warga Kota Semarang menyisakan dampak kesehatan yang cukup signifikan. Berbagai kandungan air laut yang meluap ke pemukinan warga setempat meninggalkan berbagai macam dampak penyakit yang cukup bervariasi.

Kandungan rob
Air laut merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya, seperti garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Air laut berasa asin karena memiliki kadar garam rata-rata 3,5%. Artinya, dalam 1 liter air laut (1000 ml) terdapat 35 gram garam.
Adapun zat-zat garam yang terkandung dalam air laut adalah Klorida (55%), Natrium (31%), Sulfat (8%), Magnesium (4%), Kalsium (1%), Potasium (1%), dan sisanya kurang dari 1% terdiri dari Bikarbonat, Bromida, Ssam Borak, Strontium dan Florida.
Beberapa kadungan air laut di atas sebenarnya tidak begitu berdampak serius pada kesehatan manusia. Namun yang menjadi permasalahan adalah luapan air laut itu mengalir ke pemukiman warga itu telah bercampur dengan sampah-sampah yang mengandung berbagai macam bakteri, sehingga kesehatan warga pun terancam.

Dampak bagi kesehatan manusia
Terjadinya rob berpotensi besar menjadi wabah penyakit menular yang berasal dari tempat-tempat pembuangan limbah industri atau tempat-tempat pembuangan sampah terbuka yang bercampur dengan luapan air laut yang menggenani pemukiman warga. Bakteri akan menular melalui air yang tercemar oleh banjir. Air banjir membawa bakteri, virus, parasit, dan bibit penyakit menular lainnya.
Akibat penyebaran bakteri, virus, parasit, dan bibit penyakit menular lainnya dapat menyebabkan diare, dan penyebaran penyakit-penyakit lain yang disebabkan oleh nyamuk, seperti malaria dan demam berdarah. Namun dampak luapan air laut itu lebih banyak didominasi penyakit diare dan penyakit kulit, seperti gatal-gatal dan sebagainya. Salah satu upaya untuk mengurangi dampak penyakit diare ini, pemerintah menyebarkan kaporit di sumur-sumur warga.
Dampak lain yang juga dirasakan warga adalah masalah air bersih yang dulit didapatkan. Kebutuhan air bersih sebagian tidak bisa dipenuhi karena sebagian dari sumur warga telah tercemar air laut, limbah, dan rasa asin, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai konsumsi warga.
Oleh karena itu, untuk kebutuhan air minum yang sehat, sebagian warga bergantung dari program penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas). Namun di saat sarana pamsimas mengalami kerusakan, warga menggantungkan suplai air bersih bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng.

 Jerit Hati Warga Kampung Basah
            Air rob yang menggenangi perkampungan-perkampungan sepanjang pesisir utara Kota Semarang membuat masalah tersendiri bagi penghuninya. Selain mengganggu lingkungan, genangan air sepanjang tahun ini juga menyebabkan kerugian yang tidak sedikit. Lalu, bagaimana keluhan mereka, berikut ungkapannya ketika ditemui SELARAS.

Wardoyo, warga Sporland RT 01 RW III, Kelurahan Kemijen, Semarang Timur
            “Susah mas, kalau mau kemana-mana sulit. Apalagi di Jl. Ronggowarsito tiap tahun ditinggikan, jalan kampung mau tidak mau juga harus ditinggikan. Akibatnya, rumah-rumah di sini makin tenggelam. Bagi yang mampu mungkin bisa menaikkan, atau pindah dari sini. Padahal di sini banyak yang enggak mampu. Seperti kami yang hanya pensiunan PJKAmau tidak mau ya harus diterima. Coba lihat itu rumah-rumah di sini banyak yang tenggelam, sehingga kalau mau masuk harus menunduk. Sumur di sini sudah tidak bisa dipakai, warga hanya mengandalkan air ledeng (PDAM-red) yang sering tidak lancar. Lalu untuk MCK saja kadang juga sulit, sebab kalau mau buat WC sudah tidak mungkin lagi. Orang sini mau pindah pun susah, karena rumah-rumah di sini tidak laku dijual. Yang jadi permasalahan, padahal air rob semakin tahun terus naik. Lalu bagaimana 3-5 tahun kedepan.”

Widodo, warga Tikung Baru (sebelah POS 4) Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang
            “Kasihan orang yang mau kerja, bepergian atau anak-anak sekolah dan. Mereka terpaksa harus njegur (turun ke air-red). Padahal airnya kotor campur antara got, sampah dan bau busuk dari laut sampai masuk rumah. Akhirnya mereka banyak yang terkena disentri, infeksi, kudis, gatal-gatal, rangen  (luka-luka di kaki akiabt kutu air-red), gudig dan penyakit kulit lainnya. Orang sini kalau pergi ke puskesmas hampir bergantian setiap harinya.”

Rounded Rectangle: P: Hakim
R: Laput 5
WASPADAI BAHAYA LEPTOSPIROSIS!

Kasus rob di Kota Semarang ternyata memiliki dampak yang serius bagi kehidupan warga Semarang, hingga mengakibatkan sejumlah korban meninggal pada setiap musimnya. Yang menjadi penyebab kasus ini adalah terjangkitnya warga pada penyakit Leptospirosis.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, Dr. Widoyono, M.PH, “Sebenarnya yang perlu diwaspadai dari dampak rob adalah penyakit Leptospirosis atau kencing tikus. Leptospirosis berasal dari tikus yang kencing sembarangan sehingga bercampur dengan air rob. Kalau Leptospirosis tidak ditangani segera, bisa berdampak kematian, meskipun ada juga dampak pada penyakit kulit, tetapi penyakit ini tidak sampai pada kematian”, ujar Widoyono.
Leptospirosis 2007-2012
Menurut data lapangan, kasus Leptospirosis di Kota Semarang meningkat dari tahun 2007 sampai dengan 2009. Dan terjadi penurunan pada tahun 2010 dan 2011. Kasus ini meningkat kembali pada tahun 2012, sedangkan untuk angka kematian mengalami peningkatan yang cukup tinggi dari tahun 2010 ke tahun 2011, dan kembali menurun pada tahun 2012. Hal ini kemungkinan disebabkan karena ketidaktahuan penderita, atau minimnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit Leptospirosis, sehingga terjadi keterlambatan dalam penanganannya.

(P= Pasien, M= meninggal, CFR= angka rata-rata)
“Leptospirosis bisa menyasar pengendara sepeda motor yang kakinya ada sedikit luka tapi terkena cipratan air rob. Pasien Leptospirosis mengalami gejala panas, nyeri betis, pusing, mual, kulit dan mata kekuning-kuningan, yang mirip dengan gejala hepatitis”, imbuh Widoyono.
Sebaran Leptospirosis
Kasus Leptospirosis di Kota Semarang menyebar di 21 Puskesmas dari 37 Puskesmas. Berdasarkan IR (angka kesakitan) Leptospirosis tahun 2012, ada 14 Puskesmas dengan IR 0,1 -10/100.000 penduduk, yaitu Puskesmas Bandarharjo, Gayamsari, Pegandan, Tlogosari Kulon, Bulu Lor, Banget Ayu, Kagok, Ngesrep, Poncol, Karangdoro, Lamper Tengah, Tlogosari Wetan, Mijen, Tambak Aji. Sedangkan 7 Puskesmas dengan IR > 10 /100.000 penduduk, yaitu Puskesmas Kedung Mundu, Halmahera, Pandanaran, Ngemplak Simongan, Candi Lama, Sekaran, dan Bugangan.
Langkah pemerintah
Untuk mengatasi dan mencegah penyebaran penyakit Leptospirosis, pemerintah menempuh beberapa langkah sebagai berikut: “Yang pertama adalah deteksi dini terhadap gejala-gejala yang berpotensi menimbulkan penyakit; kedua, mengadakan screening atau pemeriksaan penderita melalui sampel darahnya; dan ketiga, melakukan pelacakan setiap kasus yang terjadi untuk kemudian diberikan rujukan guna penanganan lebih lanjut”, pungkas Widoyono.

 PETA POTENSI AMBLESAN TANAH KOTA SEMARANG

 Keterangan : Wilayah Kota Semarang yang mengalami penurunan tanah terletak di 8 kecamatan (Gayamsari, Genuk, Pedurungan, Semarang Selatan, Semarang Tengah, Semarang Timur, Semarang Barat, Semarang Utara)yang mengalami penurunan permukaan tanah di Kota Semarang, 5 diantaranya terletak di wilayah pesisir Kota Semarang. 
Sumber : Pemkot Semarang [rencana tata ruang wilayah Kota Semarang tahun 2011 – 2030(Peta Geologi Amblesan)]


KENAPA AMBLES ?

Kondisi amblesnya daerah pesisir Semarang mengundang keprihatinan banyak pihak, dan apa yang sebenarnya terjadi. Berikut pemaparan dosen hidrologi (pengairan) Undip, Ir. Endro Sutrisno, MS.
Kenapa tanah Semarang ambles ?
Bisa karena ada suatu aliran air yang turut menghanyutkan butiran tanah, itu kemungkinan pertama. Kemungkinan kedua itu pengambilan air tanah yang terlalu banyak (artesis-red) yang ketika dilakukan terus menerus akan terjadi kekosongan di dalam. Ada juga pendapat lain yaitu air lautnya yang naik dan seakan-akan tanah terlihat lebih rendah. Bisa juga karena dahulunya semarang ini adalah tanah sedimen atau endapan yang belum mapan sehingga ketika diberi beban yang berat maka sangat mungkin akan ambles, karena secara goelogi tanah Semarang itu termasuk baru yang dahulunya pernah berwujud lautan.
Factor terbesar ?
Bisa karena pengambilan air bawah tanah, terlebih suplai air tidak bisa membawa ke kondisi normal maka kosonglah di dalam sehingga ambles. Tetapi menurut saya lebih cenderung pada hilangnya butiran tanah yang terbawa oleh aliran air hingga ke laut.
Eksplorasi air artesis, seberapa besar pengaruhnya ?
Ketika air itu diambil 10 kubik misalnya, seharusnya ada suplai dari hulu. Tetapi ketika pengisiannya itu hanya satu kubik maka akan terjadi kekosongan, dengan konsisi ini penekanan dari atas akan lebih cepat untuk menurunkan tanah. Dan kalau itu sering terjadi maka akan lebih cepat turun tanahnya.
Seberapa besar penurunan tanah di Semarang ?
Kalau di daerah lain itu bisa 9-11 cm pertahun, di daerah Tambaklorok (Semarang Utara) itu mencapai 15 cm pertahun.
Daerang Semarang, mana saja yang berpotensi ambles?
Ya daerah tanah-tanah baru itu, untuk jelasnya kita bisa lihat dari batas wilayah pegunungan di daerah Semarang atas dan Semarang bawah. Seperti daeah Peterongan-Candisari ke utara, Siranda- Jl. Pahlawan/ Pleburan ke utara,dll.
Fenomena penurunan ini sudan akutkah?
Kalau yang muncul seperti di daerah Tambaklorok sana ya sudah akut. Namun sebenarnya kondisi ini alamiah, yang dahulu laut lalu terjadi sebuah proses endapan sehingga terbentuk daratan, katika ada beban di atasnya semakin berat (pemukiman, gedung) maka bisa jadi ke depan akan tenggelam lagi.
Mengkinkah alam menormalisasi kondisi ini ?
Untuk kondisi sekarang nampaknya sulit karena di daerah hulu (Ungaran) yang menjadi sumber airnya kini sudah banyak dibuat perumahan sehingga menutupi tanah dengan plester misalnya yang seharusnya bisa buat jalan air ketika hujan. Maka ketika seperti ini air hujan akan tidak akan masuk ke tanah dan langsung masuk ke sungai lalu dibawa ke laut.
Tentang Giant Sea Wall, apa tanggapan anda?
Menurut saya itu perlu kajian lebih mendalam lagi tentang bagaimana efektifitasnya, tetapi kalau dari segi teknologi mungkin saja berkaca dengan Belanda.
Solusi lain?
Saya rasa tindakannya tidak bisa parsial, misalnya pengaturan tentang pengambilan air bawah tanah (artesis), penangkapan air hujan agar tidak lari ke sungai untuk mengisi kekosongan. Kalau ingin segera mengkin dengan bendungan itu (Giant Sea Wall).


2020 SEMARANG TENGGELAM
Sebelum tahun 2006 lalu kondisi daerah pesisir Kota Semarang belum sepenuhnya tergenang rob. Jika air naik (baik pada saat musim penghujan maupun kemarau) dalam tempo sehari saja sudah turun kembali atau kering. Begitu juga dengan bangunan-bangunan yang berdiri di atas daerah tersebut, meski sesekali terendam air tapi masih banyak yang berfungsi dan ditempati. Tapi tujuh tahun kemudian air rob dengan cepatnya menggenangi sana-sisni hingga banyak bangunan yang ditinggal mangkrak yang akhirnya tenggelam.
Sebagaimana yang dijelaskan dosen hidrologi (pengairan) Undip, Ir. Endro Sutrisno, MS., salah satu faktor penyebabnya adalah pengambilan air tanah yang terlalu banyak sehingga akan terjadi kekosongan di dalam, meskipun ia cenderung hilangnya butiran tanah yang terbawa oleh aliran air hingga ke laut.
Namun sayang, meskipun kondisinya sudah parah masih juga banyak ditemui eksplorasi pengambilan air secara liar dan ilegal di berbagai daerah. Salah satunya di Karangroto Kecamatan Genuk. Berdasarkan pantuan kami ditemukan beberapa titik penyedotan ABT (Air Bawah tanah) yang disuplai ke rumah-rumah penduduk. Bahkan belakangan ini salah satu wilayah di kelurahan tersebut hampir dipastikan mendapat bantuan dari pusat untuk menghidupkan menara air sebesar Rp 240 juta dengan dana stimulan Rp 10 juta dari swadaya masyarakat. Padahal beberapa tahun sebelumnya, beberapa tokoh masayarakat setempat yang didukung oleh LSM pernah ditolak perijinannya oleh Pemerintah Kota melalui dinas terkait saat pengajuan proposal dan perijinan penyedotan ABT.
“Kami melakukan kegiatan seperti ini kan untuk warga. Terus terang pasokan air bersih di wilayah ini memang sulit. Kalaupun ada keluarnya kecil. Padahal warga memang benar-benar membutuhkan air bersih untuk kebutuhan hidup. Ketika ada LSM yang membantu kami untuk pengajuan proposal ya dengan segera kami lakukan.” ungkap salah seorang tokoh masyarakat Karangroto yang enggan disebut namanya.
“Apakah Anda serta semua warga di sini tidak khawatir kelak kondisi tanahnay akan seperti di daerah pesisir, semakin ambles dan tergenang air?”.
“Ah itu urusan nanti, yang penting kami mudah mendapatkan air bersih.” tandasnya.
Jika kasus-kasus seperti ini terus dibiarkan di berbagai tempat, kian lama semakin merajalela dengan alasan serupa, maka bisa dipastikan akan banyak lagi air bawah tanah yang tersedot, sehingga terjadi kekosongan ruangan. Dampaknya, tanah di atasnya akan semakin ambles dan Semarang kian tahun akan terus tergenang. Maka dipastikan 5-10 tahun ke depan Kota yang pernah menjadi tonggak sejarah perdagangan dan perkeratapian akan menjadi lautan.*


Rounded Rectangle: P: Hakim
R: Laput 9
PENTINGNYA PARTISIPASI WARGA

Penanganan rob masih menjadi program skala prioritas pemerintah Pemerintah Kota Semarang. Hal ini ditengarai fenomena rob yang masih gemar menemani warga Kota Semarang dalam kesibukannya sehari-hari. Penanganan rob atau luapan air laut yang selalu menerjang wilayah ini dimanifestaikan dalam beberapa program.
Optimalisai Pompa Air
“Berbagai langkah sudah kami lakukan, di antaranya adalah optimalisasi pompa-pompa di berbagai titik sungai di Kota Semarang”, ujar Kepala Bidang Sumber Daya Air, Energi dan Geologi Kota Semarang, Rosid Hudoyo (15/11/13).

Keberadaan pompa-pompa ini ditujukan untuk mengantisipasi datangnya banjir atau rob, sehingga normalisasi air genangan lebih cepat teratasi. “Saat ini kami memiliki sekitar 100 lebih pompa yang masih berjalan aktif. Pompa-pompa tersebut ditempatkan di 39 rumah pompa, yang tiap rumahnya rata-rata terdiri dari 6 pompa,” imbuh Rosid.
Demi optimalnya pompa-pompa tersebut, pemerintah Kota Semarang seringkali menyelenggarakan kegiatan sosialisasi kepada masyarakat untuk disiplin membuang sampah dan membantu mengeruk  saluran di sekitar pemukiman.
Mengharap Kesadaran Masyarakat
“Kami sangat mengharapkan partisipasi masyarakat untuk tidak membuang sampah secara sembarangan, terutama di daerah aliran sungai atau selokan, karena sampah berpengaruh besar terhadap kinerja pompa tersebut, sehingga aliran air menjadi terhambat dan menyebabkan tidak optimalnya fungsi pompa-pompa di sejumlah titik yang banyak sampahnya”, tegas Rosid.
Sebagai langkah konkret dan antisipatif, pihak Pemkot Semarang membentuk tim yang bekerja untuk membersihkan sampah di sejumlah titik yang rawan sampah. “Kami juga memiliki tim yang khusus mengelola sampah dan sedimen yang mengendap di sejumlah titik agar pompa-pompa ini benar-benar optimal”, papar Rosid
Penanaman Pohon Mangrove
Selain langkah-langkah di atas, pemerintah Kota Semarang juga melakukan program penanganan rob berupa pengelolaan dan penanaman pohon Mangrove untuk mengatasi abrasi dan juga mengurangi derasnya luapan air laut.  “Kalau abrasi tidak ditangani, maka luapan air laut juga semakin deras dan menambah beban kinerja pompa air”, tambah Rosid.
Setuju Dengan Catatan
Terkait rencana pembangunan giant sea wall (tembok raksasa) untuk mengatasi yang berbiaya Rp. 5 triliun di kota Semarang yang diajukan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, pihak pemkot Semarang menyetakan persetujuannya dengan berbagai catatan. “Kami mendukung usulan pembangunan giant sea wall itu, tapi kalau master plannya sudah matang, artinya telah melalui kajian dari beberapa aspek, dan dapat dipertanggungjawabkan,” pungkas Rosid.


GANJAR : Saya Optimis Dengan Giant Sea Wall

Kian parahnya banjir dan rob yang melanda wilayah Semarang bukan hanya menjadi keprihatinan Pemerintah Kota Semarang dan Pemprov Jawa Tengah. Namun dengan kondisi ini Pemprov Jateng juga berupaya sebaik mungkin untuk turut serta menyelesaikan masalah ini termasuk tentang wacana program pembangunan tanggul raksasa pereda rob (Giant Sea Wall) sepanjang pantai Kendal, Semarang dan Jepara. Seperti apa program itu, berikut paparan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat ditemui di gedung Gubernuran Semarang.

Apa latar belakang anda membangun Giant Sea Wall ?
Selama ini penggunaan pompa di sejumlah titik untuk menyedor banjir rob saya rasa tidak menyelesaikan persoalan, sehingga rob masih saja menerjang dan menenggelamkan beberapa wilayah. Meskipun beberapa rumah pompa yang dipasang dibeberapa titik mampu mengurangi rob, namun belum dapat optimal karena biaya operasional mesin cukup tinggi seperti pembelian solar dan pembayaran tenaga kerja, sehingga jika solar tidak terbeli maka operasional pompa juga terhenti. Mengatasi banjir rob, tidak dapat dilakukan setengah-setengah atau tanggung, sehingga untuk itu diusulkan pembangunan tanggul raksasa (giant sea wall).
Bagaimana mewujudkannya ?
Sudah ada tiga pihak swasta yang berencana melakukannya, bahkan mereka sudah memberikan paparan dan hasilnya cukup bagus, namun hal ini masih akan dikaji dan disampaikan kepada pemerintah pusat agar mendapatkan dukungan. Tiga pihak swasta yang telah memaparkan pembangunan tanggul raksasa tersebut dari China dan Indonesia, meskipun jika boleh memilih saya ingin menggunakan pihak swasta dari Indonesia.
Biaya yang dibutuhkan ?
Sekitar Rp 5 triliun. Kalau negara sanggup, itu bisa share dengan pusat, provinsi, dan kota. Kalau negara belum siap akan kita tawarkan swasta. Untuk itu pihak Pemrov Provinsi Jateng akan menemui Komisi V DPR RI dan Kementerian Pekerjaan umum (PU), apalagi anggaran jika dihitung dengan dampak rob relatif lebih kecil. Kita bisa menganggarkan secara multiyears, kan bisa ditanggung bersama yakni pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota, karena untuk menyelesaikan tanggul raksasa tersebut paling tidak dibutuhkan waktu hingga tiga tahun.
Untuk penanganan rob jangka pendek ?
Saya telah berbicara dengan Wali Kota Semarang agar memaksimalkan rumah pompa yang tidak berfungsi, di antaranya rumah pompa di Kelurahan Kemijen, Semarang Timur, yang pernah ditengok usai pelantikan Gubernur 23 Agustus lalu, agar kekurangan pompa segera disediakan dan diinstal.
Tanggapan anda tentang keraguan para pakar ?
Kalau ragu itu diuji karena ada metodologinya apalagi pakar, mari kita uji. Langkah pengujiannya bisa diskusi, seminar, dll, yang jelas nanti juga ada amdalnya (analisis dampak lingkungan) seperti apa. Dan keraguannya itu kalau bisa harus ditunjukkan dengan alternative apa kira-kira yang bisa dia tawarkan untuk menyelesaikan rob, kalau tidak setuju tanpa solusi tidak akan masalah rob itu selesai.
Jadi anda optimis dengan Giant Sea Wall ?
Ya, saya optimis dengan program ini. Dan harapannya biar ada sebuah pilihan yang terbaik untuk diselesaikan.





Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Baris Iklan

BARIS IKLAN

BARIS IKLAN
Agen Tafsir Al Qur'an Al Ibriz Bahasa Jawa Tulisan Latin Semarang

Mengenai Saya

Foto saya
Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
 
Support : Alfin | Alfin El-Mlipaki | Sciena Madani
Copyright © 2013. el_mlipaki - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Sciena Madani
Proudly powered by Wonder Ummi